Tujuh negara mengklaim sebagian wilayah Benua Antartika sebagai bagian dari teritori mereka. Padahal, menurut laporan koresponden BBC, Matthew Teller yang menginjakkan kaki ke benua itu, Antartika tidak dihuni oleh manusia.
Bahkan, Teller menulis, area tersebut merupakan tempat tersulit untuk bisa bertahan hidup. BBC edisi Kamis 19 Juni 2014, melansir penyebabnya tiada lain karena adanya kandungan minyak dalam jumlah berlimpah terbenam di bawah area tersebut.
Beberapa pakar memprediksi jumlah minyak di sana bisa mencapai 200 miliar barel, jauh lebih banyak dibandingkan yang dimiliki oleh Kuwait atau Abu Dhabi. Ketujuh negara yang mengklaim area di Antartika yaitu Inggris, Prancis, Norwegia, Australia, Selandia Baru, Chile, dan Argentina.
Untuk menandai area milik masing-masing negara, mereka menggambar garis batas di peta. Uniknya, apabila menjejakkan kaki di salah satu area yang dimiliki oleh negara tertentu, maka paspor mereka akan dicap di pos perbatasan.
Contohnya, ketika turis mengunjungi pos di Benua Antartika milik Inggris di Port Lockroy, maka paspor mereka akan dicap.
Padahal, Benua Antartika bukan sebuah negara. Tidak ada pemerintahan dan penduduk asli. Dalam hukum internasional juga tidak dikenal kehadiran area Inggris di Antarktika.
Hal serupa juga terjadi, apabila menginjakkan kaki di area yang diklaim oleh Chile dan Argentina. Agar tidak terjadi konflik, maka dibuatlah traktat Antartika yang ditandatangani pada 23 Juni 1961 yang ditandatangani oleh 46 negara. BBC menyebut saat ini sudah ada 50 negara yang meratifikasi traktat tersebut.
Di dalamnya tercantum bahwa benua itu hanya digunakan sebagai tempat penelitian ilmu pengetahuan dan melarang aktivitas militer. Total terdapat 68 pos yang digunakan untuk penelitian damai.
Namun, aturan tersebut mulai dilanggar secara diam-diam. Chile dan Argentina terbukti menempatkan pasukan militer di Antartika.
Beberapa pihak khawatir, pengerahan anggota militer itu juga dilakukan oleh negara lainnya. Atau negara-negara tersebut merekrut kontraktor keamanan sipil untuk misi militer.
Bahkan, Pemerintah Australia saat ini melihat pos terbaru China sebuah ancaman, karena memiliki potensi untuk dijadikan pusat pemantauan.
"Pos Antartika kini digunakan untuk kepentingan ganda yaitu penelitian sains yang bermanfaat untuk militer," ujar perwakilan Pemerintah Australia.
Selain ketujuh negara tadi, negara lain seperti Iran, India, Pakistan dan Turki turut ingin mengeksplorasi daerah itu, atas nama kepentingan penelitian. Apabila aksi klaim ini nantinya berubah menjadi sengketa wilayah baru, maka Traktat Antarktika tidak memiliki kekuatan. (ita)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar