Index Labels

WOW ! Temuan BPK : Indikasi Kerugian Pemprov DKI Era Jokowi Tembus Triliunan Rupiah

. . Tidak ada komentar:

JAKARTA - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI) menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan (LK) Pemprov DKI Jakarta kepada Ketua DPRD DKI, Ferrial Sofyan dalam Rapat Paripurna Istimewa di Gedung DPRD DKI, Jakarta, Jumat siang (20/6).

Dalam laporan tersebut, ternyata LK DKI tahun 2013 lalu menurun satu tingkat dari Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) menjadi Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Padahal dua tahun terakhir DKI menduduki posisi WTP-Dengan Paragraf Penjelas. Artinya, di era kepemimpinan Gubernur DKI Joko Widodo prestasi di bidang pengelolaan keuangan menurun.

"Hasil pemeriksaan laporan keuangan Pemprov DKI tahun 2013, ada 86 temuan dengan total kerugian mencapai Rp 1,54 triliun," ujar Anggota V BPK RI, Agung Firman Sampurna.

Dari temuan itu, yang berindikasi kerugian daerah senilai Rp 85,36 miliar, temuan potensi kerugian daerah senilai Rp 1,33 triliun, kekurangan penerimaan daerah Rp 95,01 miliar dan temuan 3E atau pemborosan sebesar Rp 23,13 miliar.

Kata Agung, BPK RI menggunakan metode Risk Based Audit (RBA) yang komprehensif dilandasi asas integritas, indepensi dan profesionalisme yang tinggi.

"Realisasi belanja mekanisme uang persediaan melewati batas yang ditentukan, yaitu 15 Desember 2013," imbuhnya.

Selain itu, entry jurnal realisasi belanja era Jokowi-Ahok ini tidak berdasarkan bukti pertanggungjawaban yang telah diverifikasi, melainkan rekapitulasi uang muka yang disampaikan pertanggungjawaban yang lengkap dengan indikasi kerugian senilai Rp 59,23 miliar, antara lain pada Belanja Operasional Pendidikan, Kegiatan Penataan Jalan Kampung, dan Biaya Pengendalian Teknis Kegiatan.

"Pelaksanaan sensus atas aset tetap dan aset lainnya belum memadai yaitu tidak dilakukan inventaris atas seluruh aset, kertas kerja koreksi sensus tidak memadai serta aset belum selesai disensus tidak didukung rincian sehingga nilai aset tetap dan aset lainnya hasil sensus tidak dapat diyakini kewajarannya," tutp Agung. [rus]

*sumber: http://jakartabagus.rmol.co/read/2014/06/20/160292/1/Temuan-BPK:-Indikasi-Kerugian-Pemprov-DKI-Era-Jokowi-Tembus-Triliunan-Rupiah


BPK: Kerugian Jakarta Era Jokowi Rp 1,54 Triliun




Jakarta - Di hari jadinya ke-468, Jakarta mendapat kado pahit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Temuan BPK atas APBD DKI Jakarta 2013 menunjukkan ada 86 proyek yang ganjil sehingga berpotensi merugikan daerah dengan nilai total Rp 1,54 triliun.

Anggota V BPK Agung Firman Sampurna mengatakan temuan itu terdiri atas temuan berindikasi kerugian daerah Rp 85,36 miliar, potensi kerugian daerah Rp 1,33 triliun, kekurangan penerimaan daerah Rp 95,01 miliar, dan 3E (tidak efektif, efisien, dan ekonomis) alias pemborosan Rp 23,13 miliar.

"Arah kebijakan pemeriksaannya berfokus ke dana belanja bantuan sosial, belanja jasa, dan modal," kata Agung dalam konferensi pers di gedung DPRD DKI Jakarta, Jumat, 20 Juni 2014.

Temuan-temuan yang mencolok pada era Gubernur Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama itu terdapat di Dinas Pendidikan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perumahan, dan Dinas Perhubungan. (baca: Data Dibuka ke BPK, Jokowi Ingin Negara Transparan)

Temuan di Dinas Pendidikan meliputi penyaluran Kartu Jakarta Pintar (KJP) ganda kepada 9.006 penerima senilai Rp 13,34 miliar. Selain itu, hasil audit dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) di sampel sebelas sekolah negeri menunjukkan indikasi kerugian Rp 8,29 miliar. Padahal, total anggaran BOP untuk sekolah negeri mencapai Rp 1,57 triliun.

BOP untuk sekolah swasta juga terindikasi merugikan daerah Rp 2,19 miliar karena ada manipulasi Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan ada sekolah yang mendapat BOP walaupun tidak meminta bantuan dana.

Program pengadaan bus Transjakarta dan bus sedang di Dinas Perhubungan dinilai tidak sepenuhnya sesuai ketentuan dan diragukan kewajaran harganya senilai Rp 118,40 miliar dan Rp 43,87 miliar.

Selain itu, ada pula keganjilan di Dinas Pekerjaan Umum karena adanya pencairan uang persediaan pada akhir 2013 sebesar Rp 110,04 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak Rp 104,62 miliar ditransfer ke rekening kepala seksi kecamatan, suku dinas, dan kepala bidang pemeliharaan jalan.

"Dari hasil uji lapangan, ditemukan belanja yang tidak didukung bukti pertanggungjawaban Rp 2,24 miliar," kata Firman. Ada pula indikasi kerugian Rp 4,49 miliar akibat proyek pembangunan jalan kampung yang volumenya kurang dan tidak sesuai spesifikasi teknis.

Program Kampung Deret juga dinilai tak optimal karena tidak mencapai target. Dari anggaran Rp 214 miliar, hanya terealisasi Rp 199 miliar hingga 30 Mei 2014 atau 93,12 persen dari target. Selain itu, banyak juga rumah deret yang berdiri di atas tanah negara, di lokasi drainase, dan garis sepadan sungai. (baca: Jokowi Janji Kampung Deret Bertambah Tahun Depan)

Ketua DPRD DKI Jakarta Ferrial Sofian mengaku tidak menyangka rapor keuangan DKI Jakarta bakal merosot pada tahun ini. "Saya juga kaget," ujar Ferrial seusai rapat paripurna luar biasa dengan agenda mendengarkan hasil pemeriksaan oleh BPK. "Ini kado pahit untuk ulang tahun Jakarta," ujar dia.

*sumber: www.tempo.co/read/news/2014/06/20/231586774/BPK-Kerugian-Jakarta-Era-Jokowi-Rp-154-Triliun


Hasil Audit BPK Mentahkan Gembar-gembor Jokowi Sukses Pimpin Jakarta




Laporan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan membantah kesuksesan yang digembar-gemborkan Jokowi dalam memimpin Jakarta di banyak tempat dan situasi.

BPK memberikan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) terhadap laporan keuangan Pemprov DKI tahun 2013 seiring banyak ditemukan potensi kerugian dan pemborosan anggaran. Penilaian BPK terhadap keuangan DKI ini menurun satu tingkat dari Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang didapat tahun sebelumnya.

"Selama ini dia (Jokowi) selalu membanggakan manajemen kontrol. Manajemen kontrol mana yang dia tunjukan?," ujar Ketua DPD Gerindra DKI Muhamad Taufik, kepada wartawan di Jakarta (Jumat, 20/6).

Dia melihat pendapat BPK tersebut membuka kedok siapa Jokowi sebenarnya. Menurut dia, Jokowi yang cuti sebagai Gubernur DKI karena sibuk mengurus pencapresan, telah membodohi rakyat Indonesia, khususnya warga Jakarta. Di setiap acara debat capres, pernyataan Jokowi telah berhasil memimpin Jakarta hanya pengakuan palsu tak berdasar fakta.

"Jokowi belum berbuat apa-apa di Jakarta," imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan Taufik, Jokowi telah gagal mengelola keuangan DKI secara bersih dan sesuai peruntukannya. Pembelian bus Transjakarta salah satunya contohnya. Malah terkesan Jokowi menutupi korupsi Transjakarta yang dilakukan oleh salah satu tim suksesnya saat Pilgub, Michael Bimo Putranto.

"Bimo merupakan kerabatnya. Mula-mula Jokowi mengaku tidak kenal Bimo, tapi lama-lama akhirnya mengaku kenal," bebernya.[dem]

*jakartabagus.rmol.co/read/2014/06/20/160354/Laporan-BPK-Bantah-Gembar-gembor-Jokowi-Sukses-Pimpin-Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Top Stories

Total Pageviews

Menjelajahi Dunia

widgeo.net

Blogroll

Google Page Rank Checker Alexa Traffic Rank Checker Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Ads 120 X 160px

Banner 468 X 60

Popular Posts